Sejarah Kopi, Penyebaran Islam Dan Imperialisme Barat

Sejarah kopi, penyebaran Islam dan imperialisme barat. Ketiga frasa ini saling bertautan dan tidak dapat dipisahkan. Hadirnya secangkir kopi di meja kita setiap pagi adalah kolaborasi sejarah awal penyebaran Islam di Benua Afrika dan imperialisme barat ke benua asia, afrika dan amerika. Perjalanan panjang sejarah kopi penuh dengan romantika kebatinan, intrik politik dan penderitaan para budak terjajah.

  • Peran Penyebaran Islam

Menurut catatan sejarah, Kopi pertama kali dikenal di Ethiopia, Afrika, sekitar tahun 5 M. Dari beberapa literatur juga disebutkan kopi berasal dari Abyssinia, sebutan lama untuk daerah di Afrika yang mencakup wilayah Ethiopia dan Eritrea. Biji-biji kopi ditanam oleh orang-orang Ethiopia dataran tinggi. Namun berdasarkan cerita sejarah yang ada di masyarakat setempat, sebenarnya kopi telah lama dikonsumsi oleh penduduk asli Suku Galla di bagian timur Benua Afrika, bahkan jauh sekitar 1.000 tahun sebelum masehi.

Kopi mulai berkembang pesat seiring ekspansi penyebaran Islam yang dibawa oleh Bangsa Arab melalui jalur perdagangan antara tahun 700-1000 M. Kepopuleran kopi sebagai minuman digaungkan oleh para pedagang arab karena dianggap mampu menambah energi (mampu menahan kantuk). Mereka kemudian membawa kopi hingga ke Afrika Utara dan mulai menanamnya secara massal. Dari sana selanjutnya kopi semakin potensial sebagai komoditas komersial, hingga akhirnya begitu banyak kedai kopi di jazirah arab terutama Mekkah dan Madinah.

Peta sejarah kopi hingga ke nusantara (illustrasi didownload dari google)

Sejarah kopi juga tidak bisa dilepaskan dari penganut sufisme di dunia Islam. Orang-orang sufi meminum kopi untuk alasan yang sama dengan umumnya penikmat kopi saat ini yaitu agar tetap bisa terjaga, tidak mengantuk dalam rangka menjalankan ritual-ritual dzikir semalam suntuk. Dari kalangan sufi ini pula, salah seorang tokoh ilmuwan Islam Ibnu Sina, melakukan penelitian tentang unsur kimiawi yang terkandung dalam kopi. Hasil penelitiannya merupakan dokumen pertama yang diketahui membedah kopi dari ilmu kedokteran dan kesehatan.

Di masa awal perkembangannya, perdagangan biji kopi dimonopoli oleh Bangsa Arab. Mereka mengendalikan perdagangan lewat pelabuhan Mocha, sebuah kota yang terletak di Yaman. Dari sinilah nanti orang-orang di Eropa menyebut kopi dengan kata “Mocha”. Hingga di pertengahan abad Ke-14, kopi begitu terkenal di Konstatinopel, ibukota Kesultanan Utsmaniyah. Saking populernya kopi di Turki sehingga menjadi bagian penting dari setiap upacara atau kegiatan kesultanan. Sultan disajikan kopi yang disuguhkan oleh seorang ahli khusus peracik kopi yang dikenal dengan istilah kahveci usta.

Sekitar tahun 1554, kedai kopi pertama Kaveh kanes dibuka di Istanbul. Pada masa itu kopi dianggap sebagai komoditi paling berharga di Turki. Popularitas kedai kopi tidak ada bandingannya dan orang-orang sering mengunjungi mereka untuk segala jenis aktivitas sosial. Para pengunjung tidak hanya minum kopi dan bercakap-cakap, tapi juga mendengarkan musik, berbicara politik, atau sambil bermain backgammon dan catur. Kedai kopi dengan cepat menjadi pusat pertukaran informasi yang sering mereka sebut sebagai “Schools of the Wise.”

Ritual minum kopi di Turki juga memainkan peran dalam adat istiadat perkawinan sampai pada tingkat di mana wanita wajib menjalani pelatihan menyeluruh tentang bagaimana penyajian kopi secara sempurna. Dari situ calon suami akan menilai seorang wanita dengan keahliannya membuat Kopi Turki. Ketika keluarga calon suami meminta orang tua seorang gadis untuk menikah dengannya, Kopi Turki disajikan oleh calon pengantin. Sementara beberapa catatan juga menyebutkan, hukum pada masa itu bahkan memberi hak kepada para wanita untuk menceraikan suami mereka jika para suami tersebut tidak bisa menyuplai kebutuhan kopi sehari-hari di rumah.

Metode seduh kopi ala turki (Turkish Coffee/Turk Kahveci) merupakan metode penyeduhan tertua yang masih bertahan hingga kini. Metode penyajian yang dilakukan oleh Bangsa Turki saat itu, biji kopi yang telah ditumbuk dan dicampur rempah-rempah dimasak di atas bara api dengan menggunakan sebuah alat pembuat kopi berupa panci kecil bernama Cezve atau lebih dikenal dengan sebutan Ibrik.

  • (Bersambung….”Peran Imperialisme Barat”)
Cezve atau Ibrik untuk menyeduh Turkish Coffee (foto oleh Deasy Arsyad)

Fauzan Maududdin

Macro and Documentary Photographer, Author, Procurement Consultant

http://tamanpagi.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × five =